Sekilas Tentang Proyek Penelitian & Penerbitan CD/DVD Bali 1928

Selamat datang di situs Bali1928.net yang merupakan pusat data dan informasi tentang proyek Bali 1928 “Restoration, Dissemination and Repatriation of the Earliest Music Recordings and Films in Bali” yang dilakukan oleh peneliti utama Dr. Edward Herbst bekerjasama dengan Arbiter of Cultural Traditions dan STMIK STIKOM BALI.

Sebagai upaya pemugaran, penyebaran, dan pemulangan kembali warisan pusaka seni dan budaya Bali dari tahun 1930-an, proyek ini menerbitkan lima volume CD yang berisi berbagai rekaman tabuh dan nyanyian karya seniman dan sekaa gamelan legendaris dari berbagai daerah di Bali. Selain itu, lima volume CD tersebut didampingi juga oleh lima volume DVD yang memuat cuplikan-cuplikan film tentang pemandangan alam dan kehidupan masyarakat Bali pada masa tahun 1930-an termasuk pula  berbagai pilihan seni tari dan tabuh yang dipentaskan oleh para seniman besar Bali pada di masa itu.

Beka-Pupuh-Adri-RecordRekaman audio dalam CD bersumber dari berbagai piringan hitam yang diterbitkan oleh label rekaman Odeon dan Beka dari Jerman pada masa tahun 1928-1929 yang selama bertahun-tahun dikumpulkan dari berbagai pusat arsip di seluruh dunia oleh peneliti utama Dr. Edward Herbst serta dipugar kembali kualitasnya oleh Allan Evans dari Arbiter of Cultural Traditions di New York. Sedangkan cuplikan-cuplikan film yang dimuat dalam DVD bersumber dari film-fim kuna karya Colin McPhee, Miguel Covarrubias dan Rolf de Maré dan disunting oleh Ridwan Rudianto dari Bali. Lima volume CD dan DVD tersebut akan diluncurkan pada semester pertama tahun 2015. Penerbitan lima volume CD dan DVD juga didampingi naskah-naskah hasil penelitian oleh Dr. Edward Herbst yang bisa didapatkan dalam CD maupun diunduh secara bebas di situs ini.

Proyek penelitian dan penerbitan rekaman-rekaman bersejarah ini didukung sepenuhnya oleh Research Foundation di The City University of New York (CUNY) yang menerima hibah dari The Andrew W. Mellon Foundation dan melibatkan Dr. Edward Herbst sebagai koordinator proyek, etnomusikolog dan peneliti utama, Allan Evans dari Arbiter of Cultural Traditions di New York sebagai ahli pemugaran kualitas rekaman audio piringan hitam, serta Dr. I Made Bandem sebagai penasihat ahli. Rekan penerbit kami di Indonesia adalah STMIK STIKOM BALI yang dipimpin Dr. Dadang Hermawan dengan koordinator proyek Marlowe Makaradhwaja, video editor Ridwan Rudianto, desainer grafis Jaya Pattra Ditya, serta Marlowe Makaradhwaja dan I Wayan Juniartha sebagai penerjemah artikel ini ke dalam bahasa Indonesia. Situs ini sepenuhnya digubah dan dikelola oleh Dr. Edward Herbst dan Marlowe Makaradhwaja dengan dukungan dari STMIK STIKOM BALI.

Saat ini tim peneliti dan penerbit sedang merampungkan dua volume CD dan DVD yaitu Bali 1928, vol. I: Gamelan Gong Kebyar – Tabuh-tabuh dari Belaluan, Pangkung, dan Busungbiu dan Bali 1928, vol. II: Tembang Kuna: Nyanyian dari Masa Lampau – Tembang, Kidung dan Kakawin dari Geria Pidada, Klungkung, Geria Budha Kaliungu, Banjar Abian Timbul, Geria Tampakgangsul dan Penarukan, Singaraja.

Dr. Edward Herbst menulis bahwa rekaman-rekaman bersejarah ini dibuat pada tahun 1928 (dan kemungkinan juga pada tahun 1929) sebagai bagian dari sebuah koleksi yang pertama kali dan satu-satunya diluncurkan ­secara komersial di Bali pada masa sebelum Perang Dunia II. Diluncurkan pada tahun 1929 dalam format piringan hitam 78 rpm, cakram-cakram yang diedarkan secara internasional tersebut bermaterikan beragam pilihan gamelan dan tembang Bali baik bergaya lama maupun baru. Dijual ke seluruh penjuru dunia (atau seperti yang terjadi kemudian ternyata tidak laku untuk dijual), piringan-piringan hitam tersebut secara cepat habis dan hilang dari peredaran. Saat itu merupakan masa yang sangat penting dalam kesejarahan gamelan Bali mengingat di seantero pulau tengah terjadi revolusi seni dengan menonjolnya kebyar sebagai gaya gamelan yang baru dan berkuasa. Kelompok-kelompok gamelan berpacu melebur gamelan kuna mereka, untuk ditempa ulang ke dalam gaya yang baru tersebut. Persaingan yang sengit antara desa-desa berikut daerah-daerah merangsang para komponis muda untuk mengembangkan berbagai inovasi dan teknik permainan yang apik dan baru. Terkait rekaman-rekaman bersejarah ini, Andrew Toth (1980:16-17) menulis:

Perwakilan dari perusahaan rekaman Odeon dan Beka dikirim pada bulan Agustus tahun 1928 untuk memperluas cakupan mereka sampai ke Bali. Lima dari sembilan puluh delapan matriks (sisi piringan hitam) yang tersedia saat itu dipilih dan disertakan dalam sebuah antologi musik tradisi non-Barat bertajuk “Music of the Orient” oleh peneliti termasyur Erich M. von Hornbostel. Koleksi inilah yang mengawali ketertarikan banyak orang, masyarakat luas, dan juga kaum etnomusikolog akan musik Indonesia.

Sepertiga dari hasil rekaman Odeon dan Beka akhirnya muncul di Eropa dan Amerika, namun sebagian besar sejatinya ditujukan untuk pasar lokal di Bali. Berkaitan dengan tujuan tersebut, informasi pada label-label piringan hitam pun dicetak dalam bahasa Melayu, bahasa pengantar yang berlaku di wilayah kepulauan Nusantara, dan malahan ada yang ditulis dalam aksara Bali. Rencana ambisius untuk mengembangkan pasar lokal itu akhirnya berujung kegagalan total karena terbatasnya minat masyarakat Bali terhadap teknologi baru dan mahal tersebut, terutama karena mereka dengan mudah bisa menyaksikan secara langsung berbagai pementasan yang hadir setiap harinya secara marak di ribuan pura dan rumah-rumah di seluruh pulau. Hanya Colin McPhee yang muncul sebagai pelanggan, membeli cakram-cakram 78 rpm itu sepanjang tahun dari seorang penjual yang putus asa; dan kebanyakan koleksinya masih dilestarikan dengan baik sampai hari ini, selamat dari kekecewaan dan kemarahan sang agen yang menghancurkan semua stok yang tersisa (McPhee, 1946: 72).

Menariknya, semua rekaman dilakukan di bawah bimbingan Walter Spies, seorang pelukis dan musisi yang pengetahuan intimnya tentang seni dan budaya Bali tersedia begitu bebas dan kerap menguntungan penelitian atau karya pihak lain (Rhodius, 1964: 265; Kunst, 1974: 24). Walau dibatasi oleh sarana yang hanya berdurasi tiga menit, rekaman-rekaman tersebut adalah contoh menakjubkan dari kekayaan genre musikal baik vokal maupun instrumental, serta generasi komponis, seniman dan sekaa ‘kelompok’ gamelan masa itu yang kini dihormati sebagai guru-guru terpandang dan sekaa-sekaa legendaris, seperti I Wayan Lotring, I Nyoman Kalér, gamelan gong Pangkung, Belaluan, dan Busungbiu. Dokumentasi suara dari berbagai warisan dan pusaka musikal Bali yang tak ternilai harganya memuat berbagai gaya nyanyian yang nyaris tak terdengar saat ini; lalu Kebyar Ding, sebuah gubahan tabuh yang secara historis sangat penting, yang kini bisa dipelajari kembali oleh generasi penabuh masa sekarang melalui rekaman-rekaman yang dahulunya dibuat oleh para ayah dan kakek mereka seperti yang termuat dalam cakram-cakram asli tersebut; dan juga berbagai rekaman para penyanyi terkenal yang bahkan disakralkan oleh para keturunannya dengan menyimpan salinan kasetnya di pura keluarga.

Demikian sekilas tentang proyek Bali 1928, mari bergabung dengan proyek repatriasi ‘pemulangan kembali’ kekayaan dan keragaman seni dan budaya Bali dari masa lampau ini. Bila pembaca mempunyai keterangan tambahan mengenai identitas orang-orang atau lokasi-lokasi yang terdapat dalam cuplikan film dan foto-foto dalam CD dan DVD, maupun cerita dan sejarah yang berkaitan dengan proyek penelitian ini, mohon kirimkan data dan informasinya ke alamat email info@bali1928.net untuk kami pelajari lebih lanjut.

Di abad ke-21 ini, kami menemukan rasa ingin tahu yang tinggi di Bali terhadap masa lalunya, berusaha menemukan apa yang sesungguhnya penting dalam kebudayaan Bali. Minat yang begitu tinggi, yang belum pernah ada sebelumnya, terhadap rekaman-rekaman bersejarah ini di antara para penabuh, penari dan penyanyi, baik muda dan tua, kian membesarkan hati kami dalam mengerjakan – selama bertahun-tahun dan lintas benua – sebuah proyek repatriasi ‘pemulangan kembali’, mencari arsip-arsip yang tersebar dimana-mana untuk membantu masyarakat Bali masa kini dalam memperoleh dan menikmati kembali kejayaan kesenian masa lampau mereka. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *