Naskah PDF Bali 1928, vol. V: Vocal Music in Dance Dramas (ENGLISH)

Berikut adalah naskah PDF Bali 1928, vol. V: Nyanyian dalam Dramatari (Vocal Music in Dance Dramas) dalam bahasa Inggris yang ditulis oleh peneliti utama Bali 1928, Dr. Edward Herbst. Naskah ini memuat ulasan tentang ihwal Jangér, Arja, Topéng  dan Cepung khususnya ansambel dari Kedaton, Abian Timbul, Sesetan, Belaluan, Kaliungu, dan Lombok.

Volume ini merupakan seri kelima dari koleksi Bali 1928 yang mengetengahkan tiga jenis drama yang muncul di awal abad ke-20 dan terus lanjut berkembang di dekade-dekade berikutnya. Perwujudan dari modernitas Bali yang beragam diwakili dalam kebangkitan jangér, khususnya di kalangan remaja. Jangér utamanya dipengaruhi oleh Komedie Stamboel, teater bergaya Eropa-berbahasa Melayu yang pertama kalinya muncul di Surabaya, Jawa pada tahun 1891. Masih populer di zaman, jangér menggabungkan cerita-cerita tradisional nan jenaka dengan lagu-lagu menawan yang dinyanyikan oleh para gadis berbusana tradisional yang ditimpali koor kécak oleh para pemuda yang memakai kostum bergaya Barat, termasuk celana pendek, hiasan tanda pangkat di bahu ‘epaullettes’ dan kumis palsu yang konyol. Jangér menggabungkan unsur nyanyian dari tari kerauhan Sang Hyang, pantun Melayu, dan cakepung ‘lagu-lagu minum arak’ dengan gamelan geguntangan yang biasanya mengiringi dramatari arja dan juga gamelan tambur yang memakai rebana, kendang yang berasal dari Arab. Gerakan-gerakan tangan dan lengan bergaya saman dan saudati ditambah dengan posisi tubuh yang lazimnya diperagakan dalam ritual Muslim Sufi dan tarian lainnya di Aceh, Sumatera Utara,menjadi ciri khas para penari laki-laki jangér. Semua ini menyatu dalam jangér termasuk unsur-unsur tari kuna légong dan dramatari wayang wong yang berdasarkan epos Ramayana, serta akrobat sirkus yang terinspirasi dari kelompok-kelompok seni pertunjukan yang sempat pentas di Bali.Dan sesudah kunjungan aktor dan bintang film Charlie Chaplin ke Bali pada tahun 1932, kumis palsu yang dilukis pada wajah penari kécak pun dinamakan caplin. Menariknya, kebangkitan jangér sepanjang abad ke-20 terjadi kembali di saat ketidakpastian politik dan pergolakan sosial.

Dramatari opera arja muncul di masa peralihan abad ke-20, menyeruak keluar dari keklasikan dan formalitas dramatari gambuh, tetapi dengan penekanan pada improvisasi, komedi dan kisah percintaan penuh lara.Cerita-cerita bersumber dari puisi geguritan yang pada abad ke-18 telah tumbuh subur dalam bahasa Bali dibandingkan bahasa Kawi ‘Jawa Kuna’-Bali yang dalam pementasan memerlukan adanya penerjemahan agar para penonton bisa memahami lakon yang dipentaskan. Pada tahun 1915, kemunculan geguritan yang mengisahkan drama percintaan antara dua sejoli Cina, Sampik dan Ingtai merupakan momen penting yang melambungkan ketenaran arja. Awalnya dipentaskan oleh pelakon yang keseluruhannya laki-laki, masa tahun 1920-an menjadi awal keterlibatan pelakon perempuan untuk memerankan tokoh-tokoh perempuan dalam cerita dan juga peran mantri ‘pangeran’ dalam dramatari yang menghanyutkan perasaan dan berlangsung dari tengah malam sampai dini hari tersebut.

Topéng telah menjadi sebuah jenis dramatari keupacaraan yang dipersembahkan oleh seorang pelakon ssetidaknya sejak pertengahan abad ke-17, walau rujukan akan topéng Bali tercatat pada naskah tembaga Prasasti Bebetin bertahun 895 Masehi. Di masa dekade 1890-an, Ida Boda dari Negara/Batuan (Sukawati) dibutuhkan oleh Raja Badung (kini Denpasar) untuk mementaskan Topéng Sidha Karya yang berfungsi menuntaskan persembahan suci dan upakara ‘upacara keagamaan’. Menetap di Kaliungu, Ida Boda mendirikan trio topéng legendaris – panasar topéng dan arja – bersama Ida Bagus Rai Purya dari Serongga, Gianyar (sebagai kartala ‘pembawa cerita jenaka’) dan Nyarikan Seriada (1877-1947) dari Banjar Gemeh, Denpasar (sebagai topéng Dalem ‘raja’ atau mantri arja). Topéng panca mereka melibatkan I Ketut Keneng dari Belaluan (ayah dari komponis Made Regog) dan Guru Grebeg dari Angabaya. Penyanyi belia jangér Kedaton berusia sepuluh tahun di tahun 1928, Ni Wayan Pempen, bergabung beberapa tahun kemudian untuk memerankan tokoh galuh ‘putri’ dalam sebuah trio topéng dengan Ida Boda dan Ida Bagus Purya, pentas di sekeliling pulau Bali dan Lombok. Ni Lemon dari Abian Timbul pun mementaskan sosok mantri dalam arja dan – secara unik – memerankan tokoh Punta (peran panasar kuat) bersama ansambel-ansambel yang keseluruhannya adalah laki-laki.

Cepung Sasak (Muslim) Lombok adalah sandingan cakepung Bali yang melengkapi keseluruhan aktivitas kreatif ini sebagai sumber inspirasi dalam perkembangan jangér dan sumber dari pelbagai inovasi musikal yang dilakukan oleh Ida Boda sebagai penyanyi dan dramawan topéng – yang terus berlanjut sampai masa sekarang sebagai unsur-unsur mendasar dari topéng.

Selamat membaca.

Download (PDF, 1.89MB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *