Tentang Arsip Bali 1928

Apresiasi mendalam kami haturkan kepada Allan Evans dari Arbiter of Cultural Traditions atas kemahirannya dalam mendengarkan, kecanggihan teknisnya dalam rekayasa suara ‘sound engineering’, keahliannya dalam bidang pemutar piringan hitam ‘turntable’ dan dedikasinya yang tulus dalam proses pemugaran, penyebaran dan pemulangan kembali ‘repatriation’ dengan tujuan membuat rekaman-rekaman bersejarah ini tersedia untuk masyarakat Bali, Indonesia dan dunia pada umumnya.

Penulis menghaturkan terima kasih setulusnya kepada penasihat ahli yaitu I Made Bandem yang telah menjadi rekan diskursus, sekaligus narasumber dalam pelaksanaan proyek Bali 1928 ini. Banyak masukan berharga diberikan oleh Wayan Dibia dan Endo Suanda, khususnya pada penelitian tentang gamelan gong kebyar.

Tim peneliti awal, tahun 2003, terdiri dari Ni Ketut Suryatini, I Made Arnawa, Wayan Dibia dan Edward Herbst. Untuk tahun-tahun 2006, 2007, 2008 dan 2009, tim peneliti terdiri dari I Ketut Kodi, Ketut Suryatini, Wayan Dibia dan Edward Herbst, dengan dibantu oleh I Nyoman Suryandana (Ongki).

Para informan kunci yang khusus untuk proyek kebyar adalah I Wayan Begeg (Pangkung), I Wayan Beratha dan I Nyoman Yudha (Sadmerta-Belaluan), I Nyoman Rembang (Sesetan), I Putu Sumiasa (Kedis Kaja), Guru Rsi Gde Adnya (Sawan), I Gusti Gde Tika dan I.G.B.N. Pandji (Bungkulan), I Wayan Kelo (Kuta), I Wayan Konolan (Kayumas), dan I Wayan Pogog (Lebah). Para ahli yang pokok untuk mendengarkan dan proses analisis adalah I Nyoman Astita dan I Made Bandem, dan dibantu pula oleh I Ketut Gede Asnawa, Ni Desak Suarti Laksmi, I Nyoman Catra, Ketut Suryatini, Ketut Kodi and Pande Made Sukerta.

Rekan yang sangat berperan untuk volume Tembang Kuna adalah I Ketut Kodi; yang setidaknya memakai dua topi (atau tepatnya sebuah gelungan ‘mahkota’ dan udeng ‘destar’) sebagai seorang ahli dan rekan penelitian serta informan yang selalu berorientasi pada keahliannya sebagai tukang tapel, dalang, penari topéng dan arja. Tim peneliti utama untuk volume Tembang Kuna termasuk juga Ni Ketut Suryatini (Kayumas Kaja) dan Ni Ketut Arini (Lebah).

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada AMINEF dan Fulbright Senior Scholar Research Award yang telah mendukung Edward Herbst (sepanjang tahun 2014-2015) untuk melakukan berbagai studi lapangan dan seminar di Bali yang berhubungan dengan rekam jejak musik tahun 1928 dan keberlanjutannya di masa sekarang.

Matur Suksma.