Audio

4. Berikut adalah audio stream salah satu rekaman dalam CD Bali 1928, vol. IV: Seni Pertunjukan Upacara yang berjudul Pangécét Bérong oleh Gamelan Angklung Pemogan, Denpasar. Dr. Edward Herbst menulis:

Di Bali masa kini, suling selalu disertakan dalam ansambel angklung (kecuali di Sidan dan Banjar Batur, Kamasan, Klungkung), tetapi McPhee menegaskan sebuah praktik masa lalu terkait pembawaan Bérong Pangécét, “Keragaman bisa muncul dalam permainan melalui pengubahan susunan alat-alat gamelan dalam ansambel. Dalam rekaman gamelan Mogan [Pemogan] oleh Odeon, sebuah suling disertakan dalam ansambel – sebuah praktik yang tak lazim di masa sekarang” (1966: 251). Merujuk secara khusus kepada dua trek ini, McPhee menulis:

Pangecet dan pangawak biasanya dimainkan tanpa jeda, dan kerap dijalin oleh sebuah bagian peralihan yang berlanjut dari pangawak menuju bagian utama dari pangécét…Pangécét umumnya berhubungan secara tematik dengan pangawak. [Pada trek #18 dan #19] bagian utama dari pangecet terdiri dari ostinato ‘pengulangan frase musikal’ 16 nada yang bersumber dari 16 nada pokok pertama dari pangawak…

Bagian peralihan yang memperkenalkan pangecet dimainkan secara serempak oleh alat-alat gamelan pukul berbilah perunggu (metalofon). Dimulai mengikuti tempo dari pangawak sebelumnya yang nada-nada pokoknya mengalir dengan kecepatan M. 48, permainan secara perlahan makin cepat sampai dua kali lipat, ketika nada dasar dari pangecet terdengar untuk pertama kalinya. (1966: 249-250).

Rekaman sebenarnya dimulai pada saat pangawak dan pada 00:26 memulai peralihan menuju pangécét. McPhee berkomentar bahwa suling adalah komponen tak lazim dalam gamelan angklung pada tahun 1930-an dan:

Dua kali selama péngécet, bagian utama dari gamelan berhenti bermain; kembangan dilanjutkan oleh suling secara sendirian, mengalun melawan melodi jégogan yang kini bergerak dalam kecepatan ganda (ibid: 261).

Gending ini sudah hilang dari repertoar karya di Pemogan dan para penabuh Pemogan yang berkesempatan menyimak rekaman sangat terkesima dengan pengulangan bagian gending yang mengedepankan permainan jégog dan suling. Para penabuh pun membahas untuk menghidupkannya kembali di masa sekarang. Anggota tertua dari sekaa, I Ketut Konolan, mengingat dengan jelas gending tersebut. Ketika sekaa mengeluarkan dua buah gangsa, ia dan seorang penabuh muda bermain bersama mengikuti alunan gending dari rekaman bersejarah tahun 1928.

 

Koleksi lengkap dari album ini bisa dibeli dan diunduh di link berikut: Bali 1928, Vol. IV: Music for Temple Festivals and Death Rituals | Arbiter of Cultural Traditions