Film

2. Berikut adalah daftar putar video-video dari DVD Imaji dari Masa Lampau yang merupakan materi pendamping dari CD Bali 1928, vol. II: Tembang Kuna: Nyanyian dari Masa Lampau: Tembang, Kidung dan Kakawin dari Geria Pidada Klungkung, Geria Budha Kaliungu, Banjar Abian Timbul, Geria Tampakgangsul dan Penarukan Singaraja.

Pada chapter 1 terdapat cuplikan-cuplikan bisu tentang alam lingkungan Gunung Batur, persawahan Bali, kehidupan di desa-desa Bali, pembuatan atap dari alang-alang, menenun, I Gusti Ketut Kandel membuat topeng, menjala ikan secara tradisional, memetik kelapa, menumbuk padi, dan anak-anak memandikan kerbau.

Pada chapter 2 terdapat cuplikan-cuplikan bisu tentang suasana persungaian, Pura Tirta Empul, pemintalan benang, penenunan tenun ikat, pembuatan tembikar tanah liat, suasana pasar guci tanah liat, suasana pesisir pantai dan laut, sabut kelapa, gambir, pamor dan mako, daun sirih, buah pinang, suasana pasar tradisional, pelbagai macam dagangan dan jajanan, uang kepeng, dan kehidupan masyarakat pedesaan.

Pada chapter 3 terdapat cuplikan-cuplikan bisu tentang Pura Besakih, Padma Tiga Pura Besakih, cuplikan perhutanan, aktivitas masyarakat Bali seperti membuat persembahan upacara, suasana pawai menuju pura untuk upacara keagamaan, dan suasana macaru atau persembahan kurban.

Pada chapter 4 terdapat cuplikan-cuplikan bisu tentang Ida Boda mengajar legong bersama gamelan palégongan dari Kelandis. Ida Boda (alias Ida Bagus Boda) tentunya menjadi penasihat utama untuk Beka, dan kemungkinan besar juga untuk Odeon dan Walter Spies, terutama dalam memilih para seniman dan sekaa gamelan yang disertakan dalam sesi-sesi rekaman bersejarah pada tahun 1928 itu. Keluarga Ida Boda berasal dari Budakeling, Karangasem, Bali Timur, dan beliau dilahirkan pada 1870 dalam lingkup keluarga Geria Buda di Batuan (sebuah desa yang masih menjunjung tinggi tradisi dramatari klasik gambuh), yang pada saat itu masih dalam lingkup kerajaan Negara, Sukawati. Desa Budakeling, yang kerap beliau kunjungi, juga mempunyai tradisi gambuh yang masih utuh, dan beliau turut serta dan berperan dalam kedua kelompok tersebut. Sebagai anggota dari tiga serangkai penari legendaris, Ida Boda memerankan panasar topéng dan arja bersama Ida Bagus Rai Purya dari Serongga, Gianyar yang memerankan kartala (dalam koleksi Bali 1928, vol. V) dan Nyarikan Seriada (1877-1947) dari Banjar Gemeh yang menjadi tokoh topéng Dalem ‘raja’ atau mantri arja. Kelompok topéng panca mereka kemudian menyertakan I Ketut Keneng dari Belaluan (ayah dari Made Regog dan kakek dari Wayan Beratha) dan Guru Grebeg dari Angabaya. Menurut penari Made Monog (1920-2013) Ida Boda dikenal sebagai pencipta tokoh topéng lucu; bondrés cungih (sumbing), yang nyanyiannya dipengaruhi gaya Sasak.

Pada chapter 5 terdapat cuplikan-cuplikan bisu tentang Ida Pedanda Made Sidemen. Peneliti Utama Bali 1928, Edward Herbst mengutip Raechelle Rubinstein menulis bahwa “Pedanda Made dilahirkan pada tahun 1878 dan merupakan anggota masyarakat Intaran, salah satu dari dua desa adat yang melengkapi unit administratif modern (perbekelan) Sanur…Pedanda Made adalah salah seorang tokoh terhebat yang dimiliki Bali pada masa abad ke-20, dikenal dan dihormati karena pencapaiannya dalam berbagai bidang, di antaranya sebagai pendeta Brahmana (pedanda), ahli persembahan (banten), pembuat topeng, pembuat kendang kayu bulat memanjang dan mempunyai rongga suara (kulkul), arsitek tradisional (undagi), dan seorang penyair, penulis, ilustrator, penutur, penerjemah dan penulis lontar. Beliau bukan saja kompeten dalam masing-masing bidang tersebut, tetapi merupakan ahlinya, seorang perfeksionis, seorang maestro.”

Pada chapter 6 terdapat cuplikan-cuplikan bisu tentang Pura Tanah Lot, Tabanan, alam lingkungan hutan Bali, persawahan berjenjang Jatiluwih, kegiatan membajak sawah, meratakan sawah, menanam padi, memanen padi, menangkap capung unutk lauk, hiburan mengadu jangkrik, dan membuat gula aren.

Pada chapter 7 terdapat cuplikan-cuplikan bisu tentang suasana odalan ‘upacara keagamaan’ di Pura Kehen, Bangli termasuk cuplikan Barong Payangan mapedek ‘berkunjung’ ke Pura Kehen. Dalam penelitiannya saat mengunjungi para tetua di desa setempat, peneliti utama Bali 1928, Dr. Edward Herbst berhasil mendapatkan informasi tentang tiga pemangku ‘rohaniawan’ yang terlibat dalam upacara tersebut yaitu Jero Gede Kehen, Jero Mangku Penyarikan dan Jero Mangku Pasek.

Pada chapter 8 terdapat cuplikan-cuplikan bisu tentang suasana makepung ‘karapan sapi’, alam lingkungan Sungai Ayung, keriangan anak-anak bermain di sungai, hutan monyet Sangeh, satwa klesih ‘trenggiling’, suasana pesisir pantai dengan kehidupan para nelayan tradisional, dan riuhnya suasana matajen ‘sabung ayam’.

Pada chapter 9 terdapat cuplikan-cuplikan bisu tentang suasana upacara penguburan mayat, arak-arakan upacara pembakaran jenazah ‘ngaben’, cuplikan bade ‘menara’ jenazah, suasana pedagang kaki lima di sekitar tempat upacara, persiapan upacara ngaben, keriuhan pelaksanaan upacara ngaben tersebut, penaburan abu ‘nganyut’ ke pantai, dan kehidupan pesisir pulau saat senja menjelang.

Dalam publikasi ini terdapat juga Pangkur Sasak dan Dangdang Sasak yang dilantunkan oleh Mamiq Ambar. Pangkur Sasak adalah adalah materi tambahan yang terdapat dalam DVD Bali 1928, vol. II: Imaji dari Masa Lampau sedangkan Dangdang Sasak adalah materi tambahan yang terdapat dalam DVD Bali 1928, vol. V: Panorama, Tari, Tabuh dan Nyanyian Bali Tahun 1930-an. Kedua film direkam oleh peneliti utama Bali 1928, Dr. Edward Herbst, dan diterbitkan di Indonesia oleh STMIK STIKOM Bali.

Mamiq Ambar (1920/1922–2014) dihormati sebagai penyanyi cepung, sebuah jenis tembang Sasak yang bersumber dari naskah lontar Monyeh, yang ditulis dalam bahasa Sasak-Jawa dan dinyanyikan dalam campuran bahasa Sasak, Bali dan Jawa. Sebuah kelompok cepung terdiri dari suling, redep (rebab), dan pemakhitanaos ‘penutur-penyanyi’, punggawa ‘penerjemah’ serta penyokong ‘pendukung’ yang turut serta bernyanyi.

Di Lombok, pandangan publik tentang cepung tak bisa dipisahkan dengan sosok Mamiq Ambar, yang lebih dikenal dengan sebutan Ambar. Edward Herbst mengunjungi dan bertemu dengannya di Cakranegara, Mataram, Lombok Barat, dalam dua kali kunjungan panjang pada tahun 2006 dan 2009, yang dilengkapi dengan sesi menembang petang hari di kediaman rekannya Ida Ketut Pidada.