Beranda

Arsip Bali 1928: Menggali Masa Lalu Demi Masa Depan Kreatif

“Restoration, Dissemination, and Repatriation of the Earliest Music Recordings and Films in Bali” is the best-conceived project for making audio and visual recordings available in the country of their origin that I know about. It is an elaborate and extremely stimulating example of what scholars call “repatriation”, the return of materials held in archives and museums to their home communities.” – Anthony Seeger 

“Pemugaran, Penyebaran, dan Pemulangan Kembali Rekaman Musik dan Film Terawal di Bali” (Restoration, Dissemination, and Repatriation of the Earliest Music Recordings and Films in Bali) adalah proyek terbaik sepanjang pengetahuan saya dalam upaya menyediakan kembali rekaman-rekaman musik tradisional dan film ke negara asalnya. Proyek ini merupakan contoh yang lengkap dan sangat menggairahkan akan usaha yang sering disebut-sebut oleh kelompok terpelajar sebagai “repatriasi” atau pemulangan kembali materi-materi yang tersimpan di pusat-pusat arsip dan museum-museum ke komunitas-komunitas aslinya.” – Anthony Seeger

Anthony Seeger adalah penulis dari Why Suyá Sing: A Musical Anthropology of an Amazonian People, Cambridge University Press, 1987 dan co-editor dari Early Field Recordings: A Catalogue of the Cylinder Collections at the Indiana University Archives of Traditional Music. Banyak karya tulisnya berfokuskan pada keterhubungan isu-isu kebangsaan, kebudayaan, hak asasi manusia, serta kenyataan dan tantangan dalam pengarsipan dan kekayaan intelektual. Seeger adalah Produser Eksekutif semua rekaman yang dikeluarkan pada label Smithsonian Folkways antara 1988 dan 2000, total sekitar 250 rekaman.

Tentang Arsip Bali 1928

 

Pada tahap pertamanya, Arsip Bali 1928 mempunyai beberapa fokus yaitu:

1. Repatriasi dokumen-dokumen bersejarah dari masa tahun 1930-an, terutama koleksi rekaman bersejarah 1928-29 karya label rekaman Jerman Odeon dan Beka, dokumentasi film karya peneliti-peneliti berpengaruh Colin McPhee, Miguel Covarrubias dan Rolf de Maré, serta foto-foto kesejarahan Bali masa 1930-an karya Colin McPhee, Walter Spies, Arthur Fleischmann dan lain-lain.
2. Melakukan pemugaran atas kondisi dan kualitas objek pemajuan kebudayaan tersebut di atas, terutama melakukan digitalisasi atas koleksi rekaman bersejarah Odeon dan Beka yang dipercayakan dan dilaksanakan Allan Evans, seorang ahli sound engineering dari Arbiter of Cultural Traditions New York.
3. Melakukan upaya-upaya diseminasi atau penyebarluasan hasil repatriasi tersebut kepada masyarakat luas melalui rilisan fisik dan internet serta pelbagai program outreach ‘sosialisasi’ dalam bentuk pemutaran film-film ‘Sinema Bali 1928’, diskusi, seminar dan lain-lain. Program-program ini dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman bersama akan repatriasi sehingga mendorong terbentuknya mirror archive ‘arsip cermin’ dan repatriasi berbasis komunitas, yaitu mengumpulkan memori kolektif dan properti kultural akan Bali dari koleksi masyarakat Bali sendiri.

Keberagaman koleksi akan Bali tahun 1930-an sangat penting karena:
1. Merupakan rekaman pertama-kalinya yang dilakukan di Bali dengan tujuan komersial.
2. Merupakan koleksi aural tentang seni gamelan dan nyanyian Bali yang terlengkap pada jamannya. Karena tidak laku dibeli masyarakat Bali pada era itu, agen Odeon dan Beka menghancurkan piringan hitam yang tersisa. Hanya sedikit duplikat yang berhasil dikoleksi dalam negeri maupun diedarkan di luar negeri. Sejak itu, artefak-artefak kebudayaan ini menjadi barang penting dan langka.
3. Film-film bisu dan hitam-putih yang dibuat oleh Colin McPhee, Miguel Covarrubias dan Rolf de Maré tidak pernah secara resmi diterbitkan, dan selama puluhan tahun tersimpan di pusat arsip luar negeri.

Audio

2. Berikut adalah audio stream salah satu nyanyian dalam CD Bali 1928, vol. II Tembang Kuna: Nyanyian dari Masa Lampau yang berjudul Pangkur (Tejaning Smara) yang dilantunkan oleh Ida Bagus Oka Kerebuak. Dr. Edward Herbst menulis:

“Ida Bagus Oka Kerebuak dilahirkan di antara tahun 1873-1878 dan menjalani hidupnya di Geria Pidada (kediaman Brahmana) Klungkung. Menurut putranya, Ida Bagus Pidada Kaut, nama Kerebuak (kerap digunakan dalam lingkup geria) diberikan kepadanya karena saat mengandung dirinya, ibunya jatuh, dan bunyi onomatopoetis yang dihasilkan saat menimpa lantai bambu adalah kerebuak. Walau masih berusia muda, kemahirannya dalam seni suara sudah tinggi, sampai-sampai ia diminta untuk datang ke istana Puri Klungkung oleh pujangga hebat Anak Agung Gdé Pameragan hanya untuk menyanyikan geguritan seselesainya digubah, agar sang pujangga bisa mendengarkannya sebagai tembang…Menurut Ida Bagus Pidada Kaut, ayahnya (Ida Bagus Oka Kerebuak) menyanyi sebagai juru tandak ‘penyanyi tunggal’ dalam dramatari gambuh milik puri (juga disebut sebagai tetantrian ‘mementaskan cerita-cerita Tantri’), sebuah jenis lain yang juga menggunakan iringan ansambel tujuh nada. Beliau juga memerankan tokoh Raja Lasem dalam gambuh dan tokoh mantri ‘pangeran halus’ (termasuk juga tokoh Sampik) dalam dramatari arja. Beliau juga sering menjadi juru tandak untuk légong yang diiringi oleh gamelan gong kebyar…Ida I Déwa Gdé Catra mengingat kesaktian dari Ida Bagus Oka Kerebuak ketika mementaskan peran Dalem dalam dramatari topéng, di mana beliau mempunyai kebiasaan yang unik yaitu menyanyikan sendiri lagu pengantar tandak Dalem (nyanyian dan lagu pujian bagi tokoh raja saat akan tampil) dari balik langsé ‘tirai panggung’…Ida Bagus Oka Kerebuak juga menarikan tokoh-tokoh topéng lainnya semacam tokoh keras seperti perdana menteri. Dan beliau juga memainkan peran Grantang mendampingi Ida Boda yang memerankan tokoh rakus Cupak dalam cerita yang sering disebut tenget ‘angker, keramat’…Pada saat rekaman-rekaman ini, usia Ida Bagus Oka ditaksir baru pertengahan lima-puluhan tahun dan belum dikaruniai keturunan.” (Dikutip dari naskah karya Dr. Edward Herbst (2014: 31-32) bertajuk Tembang Kuna: Nyanyian dari Masa Lampau: Tembang, Kidung dan Kakawin dari Geria Pidada Klungkung, Geria Budha Kaliungu, Banjar Abian Timbul, Geria Tampakgangsul dan Penarukan Singaraja).

Ida-Bagus-Oka-Kerebuak

Pangkur (Tejaning Smara)
Dinyanyikan oleh Ida Bagus Oka Kerebuak 
Tembang
dari geguritan Tejaning Semara (Kidung Ngiket Ipian) yang diciptakan oleh Anak Agung Gdé Pameregan (1810-1892)
Bahasa: Bali Kapara (lumrah) 
Terjemahan Indonesia dilakukan oleh Dr. Edward Herbst dan Tim Peneliti Bali 1928

 

Iseng mangiket ipian,
Iseng menggubah impian,

ditu mapinda nepukin dedari,
di sana dilihat bayangan bidadari,

miik maciri miik malepug,
wangi semerbak sebagai pertanda,

magulem sarin pudak,
bermega bunga pudak,

ujan bunga, tambulilingan ngariyung,
hujan bunga, kumbang berdengung,

mirib guruh sasih kapat,
bak guruh bulan keempat (Oktober),

anginé aris sumilir.
angin berhembus sepoi-sepoi.

Makelapan ngalap bunga,
Sepintas (bidadari) terlihat memetik bunga,

langsing lanjar pamulu putih gading,
tubuhnya semampai, kulitnya putih mulus,

tayungan lemet malengkung,
ayunan tangannya lemah gemulai,

ngenah kukuné lantang,
lentik kukunya terlihat panjang,

manguranang nyalang kadi manik banyu,
bersinar mengkilat bagaikan permata kristal,

(rekaman memotong dua baris terakhir dari bait):

yaning nyaréré malihat,
saat melirik,

masledét kadi tatit.
kedip matanya bagai kilat.

Koleksi lengkap dari album ini bisa dibeli dan diunduh di link berikut: Bali 1928, Vol. II Tembang Kuna: Songs from an Earlier Time | Arbiter of Cultural Traditions

Film

3. Berikut adalah daftar putar video-video dari DVD Sumber-Sumber Tradisi Tari dan Tabuh yang merupakan materi pendamping dari CD Bali 1928, vol. III: Lotring dan Sumber-Sumber Tradisi Gamelan.

Adapun film-film termasuk:

1. Légong Saba: Ni Gusti Nyoman Madri, Ni Dayu (Ida Ayu) Ratna, dan Ni Ketut Suri (Jero Suraga) sebagai condong.Film direkam oleh Miguel Covarrubias antara tahun 1930-1934.

2. Légong Kelandis: Ni Nyoman Polok dan Ni Luh Ciblun pentas di bawah pohon beringin di Kedaton. Film direkam oleh Colin McPhee antara tahun 193-1935.

3.Légong Kelandis: Ni Nyoman Polok dan Ni Luh Ciblun. Film direkam oleh Colin McPhee antara tahun 193-1935.

4. Latihan légong dalam gaya Saba dan Bedulu. Film direkam oleh Miguel Covarrubias antara tahun 1930-1934.

5. Ni Made Gubreg dari Kapal mengajar murid-murid dari Belaluan. Film direkam oleh Miguel Covarrubias antara tahun 1930-1934.

6. Gamelan palégongan dari Kapal. Film direkam oleh Colin McPhee antara tahun 193-1938.

7. Légong Belaluan berlatih: Ni Gusti Made Rai dan Ni Gusti Putu Adi. Film direkam oleh Colin McPhee antara tahun 1936-1938.

8. Murid légong dari Belaluan berlatih menari. Film direkam oleh Colin McPhee antara tahun 1936-1938.

9. Anak berlatih gendér rambat palégongan berbilah 13. Film direkam oleh Colin McPhee antara tahun 1931-1938.

10. I Lunyuh dan I Made Lebah bermain kendang palégongan di Peliatan, lalu diikuti oleh I Gde Manik bermain kendang kebyar diiringi dengan gendér Semar Pagulingan Teges. Film direkam oleh Colin McPhee antara tahun 1931-1938.

11. Pementasan barong Kebon Kuri dengan sandaran, jauk, dan omang. Film direkam oleh Colin McPhee antara tahun 1931-1938.

12. Pementasan barong goak, télék, jauk, Rangda, dan ngurek di Tegaltamu. Film direkam oleh Colin McPhee antara tahun 1931-1938.

13. Pementasan sandaran, omang, jauk, dan barong di Kebon Kuri. Film direkam oleh Miguel Covarrubias antara tahun 1930-1934.

14. Pementasan barong, sandaran, Rangda, dan ngurek di wilayah Kesiman. Film direkam oleh Miguel Covarrubias antara tahun 1930-1934.

15. Pementasan gamelan gendér wayang Kuta yang mengetengahkan permainan dari I Wayan Lotring (kiri-belakang) dan I Wayan Regog (kanan-belakang). Film direkam oleh Colin McPhee antara tahun 1931-1938.

16. Pementasan sebuah sekaa gamelan gendér wayang. Film direkam oleh Colin McPhee antara tahun 1931-1938.

17. Gambang di Pura Kawitan Kelaci, Banjar Sebudi, Tanjung Bungkak: Kak Bunut (I Made Darya) bermain saron dan I Wayan Pegeg bermain gambang. Film direkam oleh Colin McPhee antara tahun 1931-1938.

18. Pementasan Jogéd Bungbung Déwa diiringi oleh ngoncang bungbung dalam upacara Nangkluk Mrana, Pura Beda, Tabanan. Film direkam oleh Colin McPhee antara tahun 1933.

19. Pementasan Méndét di Pura Dalem Sayan, Ubud Film direkam oleh Miguel Covarrubias antara tahun 1930-1934.

20. Pementasan Rejang dan Abuang di Tenganan. Film direkam oleh Miguel Covarrubias antara tahun 1930-1934.

21. Pementasan Gamelan Pajogédan Sayan. Film direkam oleh Colin McPhee antara tahun 1931-1938.

22. I Made Sarin dari Ketapian berlatih tari gandrung. Film direkam oleh Colin McPhee antara tahun 1931-1934.

23. Pementasan tari Gandrung. Film direkam oleh Miguel Covarrubias antara tahun 1930-1934.

24. I Made Sarin menari gandrung dan ngibing diiringi oleh sekaa Ketapian Kelod. Film direkam oleh Colin McPhee antara tahun 1931-1938.

Foto

Bali 1930-an: Sekelumit Kisah Tak Lekang Dimakan Waktu

Pemugaran dan pameran kekayaan visual Bali 1930-an dalam format foto pun amat penting mengingat imaji-imaji masa lalu tersebut merupakan lorong waktu akan generasi tetua Bali yang penuh pemberontakan kreatif, berani, penuh pengabdian dan yang terpenting, terbuka dengan perubahan masa. Keberhasilan mitra kami, Rio Helmi, seorang visual bard ‘fotografer kawakan’ dari Bali dalam mereproduksi foto-foto hasil repatriasi – dalam kualitas standar pengarsipan dunia – semisal imaji masa muda Ida Bagus Oka Kerebuak, Marya, Kalér, Lotring, Ni Gusti Putu Rengkeg, Ni Pempen dan lain-lain sungguh-sungguh mengharukan dan membangkitkan memori kolektif akan sebuah masa renaissance kebudayaan Bali yang teguh sepanjang jaman.

Continue reading “Foto”

Naskah Penelitian

3. Naskah “Lotring dan Sumber-Sumber Tradisi Gamelan – Semar Pagulingan, Calonarang, Palégongan, Gendér Wayang, Gambang & Gandrung dari Titih, Kuta, Kaliungu, Pura Kawitan Kelaci dan Pagan” (PDF) karya Dr. Edward Herbst dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Download (PDF, 11.19MB)

Download (PDF, 3.5MB)

Program

21.
Tanggal: Kamis, 16 Februari 2017
Tempat: Kantor Bupati Gianyar
Agenda: Roadshow TIK & Budaya STIKOM Bali untuk siswa SMA/SMK dengan tema peran teknologi dalam pelestarian seni dan budaya. Studi kasus adalah Arsip Bali 1928 dengan format acara pemutaran film 30 menit dan diskusi 30 menit.
Presentasi oleh Marlowe Bandem

22.
Tanggal: Selasa, 7 Maret 2017
Tempat: The Trans Resort Bali
Agenda: Program “Bien à Bali” (Pertemuan warga-expatriat Prancis di Bali) dengan materi Sinema Bali 1928 (pemutaran film 60 menit dan diskusi 30 menit dengan fokus Paris Colonial Exposition 1931.
Presentasi oleh Marlowe Bandem
Tuan Rumah: Raphael Devianne
Penerjemah dan moderator: Jean Couteau

23.
Tanggal: Selasa, 14 Maret 2017
Tempat: Bentara Budaya Bali, Ketewel
Agenda: Bali Tempo Doeloe #16 “Air: Harmoni Bumi dan Diri” (pemutaran film 30 dan presentasi-diskusi 30 menit). Cuplikan film yang diputar berkaitan dengan saujana dan ritual yang terkait dengan air dalam kebudayaan Bali.
Presentasi oleh Marlowe Bandem. Panel bersama Drs Deny Suhernawan Yusup, MSc (Biology Department FMIPA Universitas Udayana) yang secara ilmiah mengungkap fakta krisis air di Bali.

24.
Tanggal: Rabu, 15 Maret 2017
Tempat: Cush-Cush Gallery, Denpasar
Agenda: “Denpasar Talk: Journey to the Pasar” (diskusi dan presentasi selama 50 menit tentang koleksi Arsip Bali 1928 Archive terutama sebagai inisiatif dan aktivasi repatriasi berbasis komunitas. Presentasi oleh Marlowe Bandem. Panel bersama Arief Budiman dari Rumah Sanur Creative Hub yang membahas ikonografi dalam kebudayaan Bali.

25.
Tanggal: Selasa, 21 Maret 2017
Tempat: Q Garage, Canggu
Agenda: Artgnostic mempersembahkan Ruang Gembira (diskusi dan presentasi 35 menit tentang budaya vinyl record di Bali dan Indonesia, khususnya keberadaan rekaman bersejarah Odeon dan Beka 1928-29.
Presentasi oleh Marlowe Bandem
Tuan Rumah: Indah Yuniorika of Dromme Music

26.
Tanggal: Sabtu, 15 April 2017
Tempat: Wantilan Balai Banjar Gerenceng, Denpasar
Agenda: Sinema Bali 1928 (pemutaran film 50 menit dan presentasi/diskusi 20 menit. Presentasi oleh Marlowe Bandem. Tuan Rumah: Yoka Sara dan Komang Ari Ata Wiguna selaku Ketua Sekaa Teruna Teruni Banjar Gerenceng. Ini adalah program pemutaran film secara perdana di lokasi banjar atau balai warga.

27.
Tanggal: Selasa, 25 April 2017 – 11.00 WITA
Tempat: Ruang Arsip Bali 1928 Kampus Renon STIKOM Bali
Agenda: Presentasi 10 menit terkait kunjungan Wakil Gubernur Bali, Ketut Sudikerta, Rektor ISI Denpasar, Konsul General Italy, Konsul General Japan dan media massa ke Arsip Bali 1928. STIKOM Bali telah menyediakan satu ruangan khusus untuk memamerkan foto-foto, menampilkan projeksi audio dan film dan memajang hasil penelitian oleh Dr. Edward Herbst (dalam bahasa Inggris dan Indonesia). Walau masih sederhana, ruang ini terbuka untuk umum. Pada saat kunjungan, MoU antara STIKOM Bali dan ISI Denpasar terkait pembentukan arsip cermin ‘mirror archive’ disdepakati. Tuan Rumah: Marlowe Bandem dan STIKOM Bali.

28.
Tanggal: Selasa, 25 April 2017 – 15.00 WITA
Tempat: Aula STIKOM Bali Renon
Agenda: Sinema Bali 1928 (pemutaran cuplikan film 50 menit dan presentasi/diskusi 20 menit) bagi para dosen dan staf STIKOM Bali. Agenda ini bertujuan untuk pengembangan aplikasi multimedia (format flash disk dan desktop) untuk menampilkan keseluruhan koleksi Arsip Bali 1928.
Presentasi oleh Marlowe Bandem

29.
Tanggal: Minggu, 30 April 2017 – 09.30 WITA
Tempat: Aula STIKOM Bali Renon
Agenda: Sinema Bali 1928 (pemutaran cuplikan film 30 menit dan presentasi/diskusi 20 menit) ) bagi para orang tua/wali dari calon mahasiswa baru STIKOM Bali. Ini adalah sesi pertama dari serangkaian agenda serupa yang berlangsung sampai September 2017 dengan tujuan mempromosikan Arsip Bali 1928 sebagai arsip kreatif dalam hal teknologi, seni, budaya, kewirausahaan, dan lingkungan. Acara ini diupayakan untuk mencari dukungan publik dalam hal identifikasi materi-materi Arsip Bali 1928 dan membuka peluang kerja sama bagi berlangsungnya Sinema Bali 1928 di tempat-tempat baru. Presentasi oleh Marlowe Bandem

30.
Tanggal: Minggu, 30 April 2017 – 11.30 WITA
Tempat: Aula STIKOM Bali Renon
Agenda: Media Gathering dan Sinema Bali 1928 (pemutaran cuplikan film 50 menit dan presentasi/diskusi 30 menit). Agenda ini mengundang perwakilan berbagai media elecktronik dan cetak di Bali dengan tujuan mendapat masukan dari para jurnalis akan langkah-langkah pelestarian kebudayaan, sekaligus menyampaikan keberhasilan Dr. Edward Herbst dan Tim Bali 1928 dalam mendapat materi baru untuk Bali 1928 vol. 6 dan vol. 7 yang akan datang. Presentasi oleh Marlowe Bandem

Media/Testimoni

11. NRC (04/12/2009) Artikel Bali 1928 oleh René van Peer (dalam bahasa Belanda)

Download (PDF, 1.96MB)

12. Cahiers d’ethnomusicologie review oleh Éric Vandal (dalam bahasa Prancis)

13. ARSC Association of Recorded Sound Collections Bali 1928 vol III review

Download (PDF, 158KB)

14. Liputan The Jakarta Post (2018): Bali 1928 as a creative performance art

Download (PDF, 434KB)

15. Bali Post (12 Mei 2018) – Bali 1928 Jadi Model Pengembangan Budaya Nusantara


Beberapa testimoni akan kinerja Arsip Bali 1928 dan publikasi Dr. Edward Herbst termasuk:

“This is a brilliant comprehensive view of Bali’s musical and dance-drama history in the early twentieth century, based on rare recordings, photos and films, and enriched by extensive interviews with Balinese of all ages and talents. Herbst answers some very big questions: about the impact of colonial power on everyday Balinese culture, about the fundamental nature of Balinese music before and after the reorganization of Balinese society, and about the practice of improvisation in Bali. Herbst demonstrates that there were significant changes going on within Balinese creative arts in the first part of the twentieth century, changes which have been unknown heretofore to historians and anthropologists of Indonesia. He shows that Bali’s 20th-century musical, choreographic and theatrical life began and is still moving into a more self-conscious phase, an awareness of its own traditions and an indigenous re-invention of the notion of “avant garde” with all its implications for the richness of creativity and layered interpretations. He is aware of the largest social contexts of musical composition and performances as well as the smallest and most intimate. His impact on Indonesian intellectual life cannot be over-exaggerated.” – Hildred Geertz, Professor of Anthropology Emerita, Princeton University


“Voices in Bali is a very remarkable book. In my opinion it is the first book written by a Western scholar who has really succeeded to feel and experience from within the magic exaltation of the Balinese artist during the performance of his art (music and dance and theatre).” – Anak Agung Madé Djelantik, author of Birthmark: Memoirs of a Balinese Prince


“Since 1971, Edward Herbst’s research in Bali’s performing arts has produced a significant body of knowledge, including his acclaimed 1997 book “Voices in Bali.” His latest project offers perhaps his most meaningful contributions. Over the past 15 years, he has lovingly searched archives of sound and film recordings of Balinese performing arts from the 1920s and 30s. He and his Balinese team then sought out elder artists related to these recordings through family and village ties, fleshed out the significance of both music and film, and opened important new areas of research. Allan Evans of Arbiter Records in New York carefully restored, digitized and republished the audio recordings in collaboration with Herbst. He and his Indonesian colleagues at the IT institute STIKOM repatriated and published all music and films in Bali as well, leading to richer, deeper connections and memories for the artists and their communities. Such engaged, two-way scholarship is cultural activism of the most beneficial kind.” – Michael Tenzer, Professor of Music, University of British Columbia


“Edward Herbst and his Bali 1928 research team have assembled and brought back to Bali remarkable material from 1920s and ’30s recordings and films. This kind of successful cultural repatriation is unprecedented. Their accomplishment can serve as a model of collaboration not only for Indonesian and foreign scholars – but also for similar work in other countries. Herbst’s writings make clear that without an immense effort through interviews that capture the many versions of oral history, reconstruction of the past is impossible. Generations of scholars, and Balinese musicians, too, have wondered about the emergence of gamelan kebyar and until this work appeared, no one could really paint a clear picture of from where, how, and through whom it actually spread.” – Tilman Seebass, President, International Musicological Society; Professor Emeritus, Duke University


“Restoration, Dissemination and Repatriation of the Earliest Music Recordings and Films in Bali is a world model for a sensitive and productive way to reintroduce old and unique recordings in the 21st century.” – Anthony Seeger, Founding Director, Smithsonian Folkways; Professor of Ethnomusicology Emeritus, UCLA

Download (PDF, 185KB)


 

Hak Cipta

Kebijakan Hak Cipta Arsip Bali 1928

Kami sangat menghargai hak kekayaan intelektual dan mengharapkan para pengguna website Arsip Bali 1928 versi bahasa Indonesia dan versi bahasa Inggris untuk melakukan hal yang sama.

Continue reading “Hak Cipta”

Bali 1928 on Spotify

Dari Analog Ke Digital

Koleksi aural Bali 1928 tersedia dan bisa dinikmati melalui Spotify secara  lengkap, langsung dan gratis. Pemugaran atas kualitas audio dari koleksi piringan hitam karya label rekaman Odeon dan Beka (1928-29) ini dilakukan oleh Allan Evans dari Arbiter of Cultural Traditions, serta analisa mendetail tentang rekaman-rekaman bersejarah tersebut dilakukan oleh Dr. Edward Herbst, dan bisa dibaca pada tautan ini.  Selamat menikmati!

Continue reading “Bali 1928 on Spotify”