Beranda

Arsip Bali 1928: Menggali Masa Lalu Demi Masa Depan Kreatif

“Restoration, Dissemination, and Repatriation of the Earliest Music Recordings and Films in Bali” is the best-conceived project for making audio and visual recordings available in the country of their origin that I know about. It is an elaborate and extremely stimulating example of what scholars call “repatriation”, the return of materials held in archives and museums to their home communities.” – Anthony Seeger 

“Pemugaran, Penyebaran, dan Pemulangan Kembali Rekaman Musik dan Film Terawal di Bali” (Restoration, Dissemination, and Repatriation of the Earliest Music Recordings and Films in Bali) adalah proyek terbaik sepanjang pengetahuan saya dalam upaya menyediakan kembali rekaman-rekaman musik tradisional dan film ke negara asalnya. Proyek ini merupakan contoh yang lengkap dan sangat menggairahkan akan usaha yang sering disebut-sebut oleh kelompok terpelajar sebagai “repatriasi” atau pemulangan kembali materi-materi yang tersimpan di pusat-pusat arsip dan museum-museum ke komunitas-komunitas aslinya.” – Anthony Seeger

Anthony Seeger adalah penulis dari Why Suyá Sing: A Musical Anthropology of an Amazonian People, Cambridge University Press, 1987 dan co-editor dari Early Field Recordings: A Catalogue of the Cylinder Collections at the Indiana University Archives of Traditional Music. Banyak karya tulisnya berfokuskan pada keterhubungan isu-isu kebangsaan, kebudayaan, hak asasi manusia, serta kenyataan dan tantangan dalam pengarsipan dan kekayaan intelektual. Seeger adalah Produser Eksekutif semua rekaman yang dikeluarkan pada label Smithsonian Folkways antara 1988 dan 2000, total sekitar 250 rekaman.

Tentang Arsip Bali 1928

Dr. Edward Herbst mempresentasikan koleksi Arsip Bali 1928

Edward Herbst dan istrinya, Beth Skinner belajar dari I Nyoman Kakul, master gambuh, baris, dan topéng, sembari tinggal dengan keluarganya di Batuan. Pada tahun 1980-1981, Herbst mendapat hibah dari Fulbright-Hays untuk mempelajari dan meneliti pementasan musik vokal dengan gamelan dan dramatari di Bali selama lima belas bulan, berguru di antaranya dengan I Madé Pasek Tempo dari Tampaksiring, Ni Nyoman Candri, Wayan Rangkus dan Pandé Madé Kenyir dari Singapadu, serta I Ketut Rinda dari Blahbatuh. Herbst ditugaskan oleh sanggar teater-tari eksperimental Indonesia di bawah pimpinan Sardono Kusumo untuk berkolaborasi sebagai komponis dan vokal tunggal dalam Maha Buta di Swiss dan Meksiko serta dalam film karya Sardono, The Sorceress of Dirah, di Indonesia.

Setelah meraih Ph.D dalam bidang Etnomusikologi dari Wesleyan University, Herbst kembali berada di Bali selama empat bulan pada tahun 1992 (dibiayai oleh Asian Cultural Council) untuk menyelesaikan penelitian untuk buku Voices in Bali: Energies and Perceptions in Vocal Music and Dance Theater. Herbst terus membagi waktunya antara penelitian, mengajar dan turut serta dalam berbagai proyek kreatif di Indonesia dengan perannya di Amerika Serikat sebagai salah seorang artistik direktur dan komponis untuk kelompok pementasan Triple Shadow.

Marlowe Bandem dalam satu kesempatan memperkenalkan Arsip Bali 1928 kepada khalayak ramai di Karangasem (2018)

Sejak diresmikan, Koordinator Arsip Bali 1928 di Indonesia adalah Marlowe Bandem yang merupakan Wakil Ketua Yayasan Widya Dharma Shanti Denpasar yang menaungi beberapa aset pendidikan TIK di Bali dan Jawa, termasuk STMIK STIKOM Bali, SMKTI Bali Global dan STT Bandung. Ia juga adalah seorang bankir, penggiat kreatif dan pemerhati budaya Bali.

Audio

Sejauh ini, Arsip Bali 1928 telah berhasil memulangkan, memugar dan mendigitalisasi 111 rekaman bersejarah Odeon dan Beka 1928-29. Mitra kami, Arbiter of Cultural Traditions membuka akses bagi publik untuk mengoleksi hasil pemugaran dan digitalisasi secara fisik maupun digital melalui tautan-tautan  di bawah ini.

1. Dalam CD Bali 1928, vol. I Gamelan Gong Kebyar terdapat berbagai rekaman tabuh dari sekaa-sekaa legendaris Bali pada masa tahun 1930-an termasuk dari Belaluan Denpasar, Pangkung Tabanan, dan Busungbiu Buleleng.

Sekaa Gong Belaluan didirikan pada tahun 1918 dengan gamelan gong pinjaman dari Puri Dangin, kalangan bangsawan yang dekat. Pada awalnya perbendaharaan karya mereka adalah gending untuk tarian yang terkait dengan légong, tetapi pada tahun 1920 mereka mulai memainkan gaya baru kebyar. Pada sesi rekaman bersejarah tahun 1928 tersebut, Gong Kebyar dari Belaluan Denpasar merekam 10 gending termasuk Kebyar Ding karya Made Regog.

13-Made-Regog-Gong-Belaluan
Berikut audio stream dari rekaman Kebyar Ding (Bagian I) – Kebyar tersebut:

 

Mengingat satu sisi dari piringan hitam 78 rpm hanya berdurasi tiga menit, Kebyar Ding direkam menjadi enam bagian terpisah-pisah yang dalam pertunjukan sesungguhnya tidak terdapat jeda, namun dimainkan secara berkelanjutan. Bagian pertama Kebyar Ding ini secara umum masih disebut kebyar, dan menampilkan rangkaian gending dengan irama sinkopasi (pemindahan ketukan atau aksen dalam gending sehingga nada kuat menjadi lemah dan begitu pula sebaliknya) yang meledak-ledak, permainan bersama yang terbebas dari ketukan tetap, tetapi kerap kembali kepada frase dengan ketukan ajeg. Sepanjang bagian 1 sampai 5 adalah ucek-ucekan cepat, ‘menggosok’ atau ‘menyeka’ pada alunan nada-nada dan iramanya, suatu kekhasan kebyar masa awal.

Koleksi lengkap dari album ini bisa dibeli dan diunduh di link berikut: Bali 1928 Gamelan Gong Kebyar: Belaluan-Pangkung-Busungbiu | Arbiter of Cultural Traditions

Film

2. Berikut adalah daftar putar video-video dari DVD Imaji dari Masa Lampau yang merupakan materi pendamping dari CD Bali 1928, vol. II: Tembang Kuna: Nyanyian dari Masa Lampau: Tembang, Kidung dan Kakawin dari Geria Pidada Klungkung, Geria Budha Kaliungu, Banjar Abian Timbul, Geria Tampakgangsul dan Penarukan Singaraja.

Pada chapter 1 terdapat cuplikan-cuplikan bisu tentang alam lingkungan Gunung Batur, persawahan Bali, kehidupan di desa-desa Bali, pembuatan atap dari alang-alang, menenun, I Gusti Ketut Kandel membuat topeng, menjala ikan secara tradisional, memetik kelapa, menumbuk padi, dan anak-anak memandikan kerbau.

Pada chapter 2 terdapat cuplikan-cuplikan bisu tentang suasana persungaian, Pura Tirta Empul, pemintalan benang, penenunan tenun ikat, pembuatan tembikar tanah liat, suasana pasar guci tanah liat, suasana pesisir pantai dan laut, sabut kelapa, gambir, pamor dan mako, daun sirih, buah pinang, suasana pasar tradisional, pelbagai macam dagangan dan jajanan, uang kepeng, dan kehidupan masyarakat pedesaan.

Pada chapter 3 terdapat cuplikan-cuplikan bisu tentang Pura Besakih, Padma Tiga Pura Besakih, cuplikan perhutanan, aktivitas masyarakat Bali seperti membuat persembahan upacara, suasana pawai menuju pura untuk upacara keagamaan, dan suasana macaru atau persembahan kurban.

Pada chapter 4 terdapat cuplikan-cuplikan bisu tentang Ida Boda mengajar legong bersama gamelan palégongan dari Kelandis. Ida Boda (alias Ida Bagus Boda) tentunya menjadi penasihat utama untuk Beka, dan kemungkinan besar juga untuk Odeon dan Walter Spies, terutama dalam memilih para seniman dan sekaa gamelan yang disertakan dalam sesi-sesi rekaman bersejarah pada tahun 1928 itu. Keluarga Ida Boda berasal dari Budakeling, Karangasem, Bali Timur, dan beliau dilahirkan pada 1870 dalam lingkup keluarga Geria Buda di Batuan (sebuah desa yang masih menjunjung tinggi tradisi dramatari klasik gambuh), yang pada saat itu masih dalam lingkup kerajaan Negara, Sukawati. Desa Budakeling, yang kerap beliau kunjungi, juga mempunyai tradisi gambuh yang masih utuh, dan beliau turut serta dan berperan dalam kedua kelompok tersebut. Sebagai anggota dari tiga serangkai penari legendaris, Ida Boda memerankan panasar topéng dan arja bersama Ida Bagus Rai Purya dari Serongga, Gianyar yang memerankan kartala (dalam koleksi Bali 1928, vol. V) dan Nyarikan Seriada (1877-1947) dari Banjar Gemeh yang menjadi tokoh topéng Dalem ‘raja’ atau mantri arja. Kelompok topéng panca mereka kemudian menyertakan I Ketut Keneng dari Belaluan (ayah dari Made Regog dan kakek dari Wayan Beratha) dan Guru Grebeg dari Angabaya. Menurut penari Made Monog (1920-2013) Ida Boda dikenal sebagai pencipta tokoh topéng lucu; bondrés cungih (sumbing), yang nyanyiannya dipengaruhi gaya Sasak.

Pada chapter 5 terdapat cuplikan-cuplikan bisu tentang Ida Pedanda Made Sidemen. Peneliti Utama Bali 1928, Edward Herbst mengutip Raechelle Rubinstein menulis bahwa “Pedanda Made dilahirkan pada tahun 1878 dan merupakan anggota masyarakat Intaran, salah satu dari dua desa adat yang melengkapi unit administratif modern (perbekelan) Sanur…Pedanda Made adalah salah seorang tokoh terhebat yang dimiliki Bali pada masa abad ke-20, dikenal dan dihormati karena pencapaiannya dalam berbagai bidang, di antaranya sebagai pendeta Brahmana (pedanda), ahli persembahan (banten), pembuat topeng, pembuat kendang kayu bulat memanjang dan mempunyai rongga suara (kulkul), arsitek tradisional (undagi), dan seorang penyair, penulis, ilustrator, penutur, penerjemah dan penulis lontar. Beliau bukan saja kompeten dalam masing-masing bidang tersebut, tetapi merupakan ahlinya, seorang perfeksionis, seorang maestro.”

Pada chapter 6 terdapat cuplikan-cuplikan bisu tentang Pura Tanah Lot, Tabanan, alam lingkungan hutan Bali, persawahan berjenjang Jatiluwih, kegiatan membajak sawah, meratakan sawah, menanam padi, memanen padi, menangkap capung unutk lauk, hiburan mengadu jangkrik, dan membuat gula aren.

Pada chapter 7 terdapat cuplikan-cuplikan bisu tentang suasana odalan ‘upacara keagamaan’ di Pura Kehen, Bangli termasuk cuplikan Barong Payangan mapedek ‘berkunjung’ ke Pura Kehen. Dalam penelitiannya saat mengunjungi para tetua di desa setempat, peneliti utama Bali 1928, Dr. Edward Herbst berhasil mendapatkan informasi tentang tiga pemangku ‘rohaniawan’ yang terlibat dalam upacara tersebut yaitu Jero Gede Kehen, Jero Mangku Penyarikan dan Jero Mangku Pasek.

Pada chapter 8 terdapat cuplikan-cuplikan bisu tentang suasana makepung ‘karapan sapi’, alam lingkungan Sungai Ayung, keriangan anak-anak bermain di sungai, hutan monyet Sangeh, satwa klesih ‘trenggiling’, suasana pesisir pantai dengan kehidupan para nelayan tradisional, dan riuhnya suasana matajen ‘sabung ayam’.

Pada chapter 9 terdapat cuplikan-cuplikan bisu tentang suasana upacara penguburan mayat, arak-arakan upacara pembakaran jenazah ‘ngaben’, cuplikan bade ‘menara’ jenazah, suasana pedagang kaki lima di sekitar tempat upacara, persiapan upacara ngaben, keriuhan pelaksanaan upacara ngaben tersebut, penaburan abu ‘nganyut’ ke pantai, dan kehidupan pesisir pulau saat senja menjelang.

Dalam publikasi ini terdapat juga Pangkur Sasak dan Dangdang Sasak yang dilantunkan oleh Mamiq Ambar. Pangkur Sasak adalah adalah materi tambahan yang terdapat dalam DVD Bali 1928, vol. II: Imaji dari Masa Lampau sedangkan Dangdang Sasak adalah materi tambahan yang terdapat dalam DVD Bali 1928, vol. V: Panorama, Tari, Tabuh dan Nyanyian Bali Tahun 1930-an. Kedua film direkam oleh peneliti utama Bali 1928, Dr. Edward Herbst, dan diterbitkan di Indonesia oleh STMIK STIKOM Bali.

Mamiq Ambar (1920/1922–2014) dihormati sebagai penyanyi cepung, sebuah jenis tembang Sasak yang bersumber dari naskah lontar Monyeh, yang ditulis dalam bahasa Sasak-Jawa dan dinyanyikan dalam campuran bahasa Sasak, Bali dan Jawa. Sebuah kelompok cepung terdiri dari suling, redep (rebab), dan pemakhitanaos ‘penutur-penyanyi’, punggawa ‘penerjemah’ serta penyokong ‘pendukung’ yang turut serta bernyanyi.

Di Lombok, pandangan publik tentang cepung tak bisa dipisahkan dengan sosok Mamiq Ambar, yang lebih dikenal dengan sebutan Ambar. Edward Herbst mengunjungi dan bertemu dengannya di Cakranegara, Mataram, Lombok Barat, dalam dua kali kunjungan panjang pada tahun 2006 dan 2009, yang dilengkapi dengan sesi menembang petang hari di kediaman rekannya Ida Ketut Pidada.

Foto

Bali 1930-an: Sekelumit Kisah Tak Lekang Dimakan Waktu

Pemugaran dan pameran kekayaan visual Bali 1930-an dalam format foto pun amat penting mengingat imaji-imaji masa lalu tersebut merupakan lorong waktu akan generasi tetua Bali yang penuh pemberontakan kreatif, berani, penuh pengabdian dan yang terpenting, terbuka dengan perubahan masa. Keberhasilan mitra kami, Rio Helmi, seorang visual bard ‘fotografer kawakan’ dari Bali dalam mereproduksi foto-foto hasil repatriasi – dalam kualitas standar pengarsipan dunia – semisal imaji masa muda Ida Bagus Oka Kerebuak, Marya, Kalér, Lotring, Ni Gusti Putu Rengkeg, Ni Pempen dan lain-lain sungguh-sungguh mengharukan dan membangkitkan memori kolektif akan sebuah masa renaissance kebudayaan Bali yang teguh sepanjang jaman.

Continue reading “Foto”

Naskah Penelitian

2. Naskah “Tembang Kuna: Nyanyian dari Masa Lampau – Tembang, Kidung dan Kakawin dari Geria Pidada Klungkung, Geria Budha Kaliungu, Banjar Abian Timbul, Geria Tampakgangsul dan Penarukan Singaraja” (PDF) karya Dr. Edward Herbst dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Download (PDF, 2.34MB)

Download (PDF, 1.83MB)

Program

11.
Tanggal: Kamis, 8 September 2016
Tempat: Villa Pandan Harum, Lodtunduh
Agenda: Diskusi Panel terkait Conference of Australia and Indonesia Youth (CAUSINDY) tentang kepemimpinan dalam bidang seni dan budaya.
Pembicara: Okky Madasari (Co-Founder, ASEAN Literary Festival), Ele Williams (Resident Director, ACICIS) dan Marlowe Bandem (Wakil Ketua Yayasan Widya Dharma Shanti – Arsip Bali 1928)
Moderator: Wayan Juniarta
Tuan Rumah: Wayan Jarrah Sastrawan

12.
Tanggal: Rabu, 19 Oktober 2016
Tempat: The Trans Resort Bali
Agenda: Presentasi 30 menit tentang Arsip Bali 1928
Tuan Rumah: PP Doris Angst Sommer (RCBS Treasurer – Admin. Committee Chair 2016-2017) – Rotary Club of Bali, Seminyak

13.
Tanggal: Sabtu, 1 Oktober 2016
Tempat: Gedung Ksiarnawa, Taman Budaya (Art Centre) Denpasar
Agenda: Sinema Bali 1928 (pemutaran film 1 jam ditambah presentasi 10 menit)
Tuan Rumah: Dinas Kebudayaan Provinsi Bali terkait dengan pelaksanaan Gelar Seni Akhir Pekan Bali Mandara Nawanatya 2016


14.
Tanggal: Jumat, 11 November 2016
Tempat: Substore Tokyo, Japan
Agenda: Sinema Bali 1928 (pemutaran film 1.5 jam ditambah presentasi dan diskusi 30 menit).
Presenter: Marlowe Bandem
Tuan Rumah: Andhika Faisal (Substore Tokyo) dan penerjemah dari bahasa Inggris ke bahasa Jepang oleh Ahmad Toshiaki


15.
Tanggal: Sabtu, 10 Desember 2016
Tempat: Taman Baca Kesiman, Denpasar
Agenda: Sinema Bali 1928 (pemutaran film 1.5 jam ditambah presentasi dan diskusi 30 menit).
Presentasi oleh Marlowe Bandem dan Wayan Juniarta
Tuan Rumah: Agung Alit dari Yayasan Mitra Bali/Taman Baca Kesiman


16.
Tanggal: Sabtu, 24 Desember 2016
Tempat: GEOKS Singapadu
Agenda: Sinema Bali 1928 (pemutaran film 30 menit disertai presentasi dan diskusi 30 menit).
Presentasi oleh Marlowe Bandem disertai presentasi makalah “Inovasi TITI (Trade, Investment, Technology and Information) dalam Perumusan Rencana Bisnis Berbasis Seni Budaya di Desa Singapadu.”


17.
Tanggal: 26 December 2016
Tempat: Little Talks Ubud
Agenda: Sinema Bali 1928 (pemutaran film 1.5 jam ditambah presentasi dan diskusi 30 menit).
Presentasi oleh Marlowe Bandem dan Ketut Yuliarsa
Tuan Rumah: Erma Watson dan Ida Bagus Putra Adnyana
Pementasan tembang oleh Ida Ayu Gede Agus Mahadewi dan Luh Putu Indra Saskari, menyanyikan Pangkur (Tejaning Smara) yang aslinya dilantunkan oleh Ida Bagus Oka Kerebuak. Acara diakhiri dengan pemaknaan oleh Janet deNeffe, Rio Helmi, Wayan Juniarta dan Pino Confessa


Tahun 2017


18.
Tanggal: Rabu, 11 Januari 2017
Tempat: The Trans Resort Bali
Agenda: Sinema Bali 1928 pemutaran film 1 jam ditambah presentasi dan diskusi 20 menit).
Presentasi oleh Marlowe Bandem
Tuan Rumah: PP Doris Angst Sommer (RCBS Treasurer – Admin. Committee Chair 2016-2017) – Rotary Club of Bali, Seminyak


19.
Tanggal: Minggu, 15 Januari 2017
Tempat: Bali Hotel, Jalan Veteran Denpasar
Agenda: Wawancara tentang Bali 1928 dan Colin McPhee untuk program ABC Australia yang diproduseri oleh Sherre DeLys.
Pembicara: Marlowe Bandem

Simak lebih lanjut tentang Colin McPhee di Bali pada masa tahun 1930-an melalui program Earshot – ABC Radio here


20.
Tanggal: Selasa, 24 Januari 2017
Tempat: Universitas Dwijendra, Denpasar
Agenda: Sinema Bali 1928 (pemutaran film 50 menit ditambah presentasi dan diskusi 20 menit) terkait Dies Natalis Universitas Dwijendra. MoU antara STIKOM Bali dan Universitas Dwijendra dalam bidang arsip, dokumentasi dan riset juga ditandatangani oleh kedua kampus.
Presentasi oleh Marlowe Bandem
Tuan Rumah: Anak Agung Ayu Mira Daniswara (Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Dwijendra). Pementasan Pangkur (Tejaning Smara) dari koleksi rekaman bersejarah Odeon dan Beka 1928-29 oleh Luh Putu Indra Saskari.